Rabu, 21 November 2018

ILMU AL-MUHKAM WA AL-MUTASYABIHAT



A.    Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
Kata muhkam adalah isim maf’ul dari kata hakama menjadi ahkama yang berarti menyempurnakan, menetapkan, memutuskan. Menurut Bahasa, muhkam berasal dari kata al-hukm berarti memutuskan antara 2 hal atau perkara. 

Dari pengertian inilah lahir kata hikmah, karena ia dapat mencegah dari hal-hal yang tidak pantas Selain itu muhkam juga memiliki arti yang dikokohkan. Sedangkan secara istilah muhkam adalah lafadz al-Qur’an yang dapat diketahui maksudnya dengan jelas tanpa menimbulkan keraguan dalam memahaminya.
Sedangkan Mutasyabih secara bahasa berarti tasyabuh, yakni bila satu dari dua hal serupa dengan yang lain. Dan subhah ialah keadaan dimana salah satu dari dua hal itu tidak dapat dibedakan karena adanya kemiripan diantara keduanya secara kongkrit maupun abstrak. Sedangkan secara istilah, mutasyabih adalah lafadz al-Qur’an yang artinya samar dan sulit dipahami.
Dikatakan pula mutasyabih adalah mutamasyil (menyerupai) dalam perkataan dan keindahan. Jadi, masing-masing muhkam dan mutasyabih dengan pengertian secara mutlak atau umum tidak menafikkan atau kontradiksi.


B.   Macam-macam Ayat Mutasyabih Beserta Contohnya
Terdapat macam-macam ayat mutasyabih beserta contohnya sebagai berikut:
      1.      Mutasyabih Haqiqi

Yaitu ayat-ayat yang tidak mungkin diketahui (maknanya) oleh manusia. Contohnya terdapat dalam Q.S Al-An’am:103 yang berbunyi:
لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
Artinya :” Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Mahahalus, Mahateliti.”(Al-An’am:103).

     2.      Mutasyabih Nisbi

Yaitu ayat-ayat yang samar maknanya bagi sebagian manusia namun jelas bagi yang lain. Ayat-ayat jenis ini hanya diketahui maknanya oleh yang kokoh ilmunya dan boleh ditanyakan jawaban serta penjelasan nya karena memungkinkan, sebab tidak ada suatu ayat didalam Al-Qur’an yang sama sekali tidak diketahui oleh seseorang manusia. Contohnya terdapat dalam Q.S An-Nisa: 174 yang berbunyi :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَكُمْ بُرْهَانٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ نُوْرًا مُّبِيْنا
Artinya:” Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur'an).”(An-Nisa:174)

Orang-orang yang kokoh dalam ilmunya serta memiliki akal cerdik mengetahui bagaimana membawa ayat-ayat mutasyabih ini kepada makna yang sesuai dengan makan ayat-ayat yang lain yang tidak mutasyabih, sehingga Al-Qur’an seluruhnya adalah muhkam tidak ada kesamaran didalamnya. 


     C.     Hikmah Adanya Ayat Muhkam dan Mutasyabihat


Hikmah Ayat-Ayat Muhkamat

1.        Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang kemampuan bahasa Arabnya lemah. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya, sangat besar arti dan faedahnya bagi mereka.

2.      Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan bagi mereka dalam menghayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.

3.     Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran, karena lafal ayat-ayatnya telah mudah diketahui, gampang dipahami, dan jelas pula untuk diamalkan.

4.     Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayat dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus menuggu penafsiran atau penjelasan dari lafal ayat atau surah yang lain.

Hikmah Ayat-Ayat Mutasyabihat

1.   Memperlihatkan kelemahan akal manusia. Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah.

2.  Teguran bagi orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasybih. Sebagaimana Allah menyebutkan wa ma yadzdzakkaru ila ulu al-albab sebagai cercaan terhadap orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasyabih.

3.  Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia. Sebesar apapun usaha dan persiapan manusia, masih ada kekurangan dan kelemahannya.

4.  Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra dan balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT
 


    

 
 
 

 
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar